Sejarah Singkat Tentang Fibonacci

Master-fibo.blogspot.com, sebuah blog yang menjunjung tinggi nilai kesadaran, dan penghargai jasa Penemu Indikator Fibonancci, dalam artikel di blog ini akan di bahas tentang, Bagaimana cara pasang Indikator Fibonancci di MT4, Bagaimana menentukan Arah Trend Menggunakan Indikator Fibonancci, Bagaimana Cara Menarik Benang Indikator Fibonancci, Bagaimana Menentukan Harga Terendah dan Harga Tertinggi Menggunakan Indikator Fibonancci, Trik dan Tips Bermain Forex Dengan Indikator Fibonancci, Cara Sederhana Menggunakan Indikator Fibonancci, Tips Meraup Ratusan Juta di Forex Dengan Indikator Fibonancci, Cara Sederhana Trading Forex Menggunakan Indikator Fibonancci, Cara Seting Angka Indikator Fibonancci, Cara Menggunakan Indikator Fibonancci Dengan Baik dan Benar, Bagaimana Indikator Fibonancci Dapat Meraup Puluhan Juta Setiap Bulannya, Timeframes yang baik untuk Indikator Fibonancci, Trading Santai dengan Indikator Fibonancci Tehnik Rahasia Indikator Fibonancci, Cara Scalping Menggunakan Indikator Fibonancci, Scalping di Timeframes H1 Menggunakan Indikator Fibonancci, Analisa Tehnikal Dengan Indikator Fibonancci, Analisa Fundamental Dengan Indikator Fibonancci, Rumus Akurat Master Fibonancci, Master Fibonancci

Pada kurun waktu akhir abad 19 sampai sekitar awal abad 20-an, para trader saaat itu masih mengamati harga dengan cara manual. Beberapa tarader berlangganan koran yang menerbitkan rubrik
"harga saham" dan ada juga yang mengamati market dengan cara menggambarnya sendiri dengan tangan menggunakan alat tulis dan kertas berukuran besar. Pada masa itu juga muncullah para Founding Father (pendiri) dasar-dasar analisis teknikal yang sampai saat ini teorinya masih dipakai. Founding Father tersebut di antaranya adalah Dow Jones dengan Dhow Theory-nya, Ricard D.

Wayckoff dengan hukum Supply & Demand-nya, Richard W. Schabaker dengan Pattern dan Trendlinnya, dan juga R. N. Elliot dengan Elliot Wave Theory-nya. Pertanyaannya, jika pada saat itu trading tidak didukung dengan komputer dan sangat minim peralatan seperti jaman sekarang, mengapa mereka bisa sukses besar? Jawabannya tidak lain dan tidak bukan karena mereka mengamati chart (pasar) sebagai cerminan perilaku manusia. Maka dari itu bisa dipastikan teori yang mereka cetuskan tidak akan pernah lekang oleh waktu karena manusia adalah manusia. Di mana saja, apapun rasnya, dan kapanpun masanya akan tetap sama. Waktu terus bergulir dan para founding father hanya tinggal sejarah dan karyanya saja.

Subjektif? Masalah baru muncul ketika mencoba mengaplikasikan teori yang mereka cetuskan dengan tingkat pemahaman para trader yang berbeda-beda. Elliot wave misalnya. Meskipun teorinya sangatlah mudah yaitu market bergerak mengikuti pola 1-2-3-4-5 (impulse wave) yang diikuti dengan pola A-B-C (corrective wave), namun kenyataanya tidak semudah itu. Teori simpel ini bersifat sufjektif dan sangat bergantung oleh subjektivitas penggunanya. Dalam menentukan suatu pola harga, seorang trader bisa jadi akan berbeda dalam menentukan impulse wave atau korektif wave dengan trader lainnya. Hal serupa terjadi pada konsep trendline dan pattern harga. Meskipun teorinya valid, namun upaya pemlotingan trendline dan pengenalan suatu pattern oleh seorang trader akan berbeda dengan trader lain, sesuai dengan subjektivitas dan pengalaman masing-masing. Lebih jelasnya bisa dilihat di sini.

Kemudian pada kurun waktu akhir abad 20-an (1980-an), muncullah generasi baru yang melakukan pemahaman analisa pasar dengan pendekatan yang baru. Rata-rata generasi baru ini lebih kental dengan corak kaum akademisnya dari pada generasi sebelumnya yang lebih bercorak kaum jurnalis. Berbeda dengan generasi lama yang mengamati market dengan sudut pandang kejadian apa adanya (eksistensi manusia yang tercemin dalam pasar), generasi baru lebih cenderung mencoba melihat pasar menggunakan ilmu pasti (matematika) yang kebetulan didukung pula dengan kecanggihan komputer. Maka lahirlah para trader generasi baru dengan indikator-indikatornya yang berdasarkan pada rumus statistik matematika. Beberapa tokoh dari generasi baru ini diantaranya J. M. Hurst dengan cyclic dan MA rahasinya, John Bollinger dengan indikator Bollinger Bandnya, Gerald Appel dengan MACDnya, dan trader-trader lainnya. Corak yang sangat ketara dari mereka adalah bahwasannya bisa dipastikan kita akan menemukan rumusan matematika pada tiap indikator yang mereka buat. Jika kita membuka chart lalu kita menambahkan indikator, sudah barang tentu kita bisa mengubah settingan angka pada indikator tersebut sesuai dengan keinginan kita.

Repaint? Masalah baru muncul ketika dihadapkan dengan indikator yang dibuat berdasarkan rumusan statistik. Untuk bisa menentukan hasil perkalian statistik, sudah barang tentu kita harus mendapatkan data terlebih dahulu. Jika ingin mengetahui jumlah petani di Indonesia, kita harus melakukan survey terlebih dahulu untuk kemudian mengolah data tersebut menjadi data valid. Hal serupa terjadi pada indikator yang dipasang pada chart. Jika kita melakukan analisis dengan menggunakan Simpel Moving Average di time frame H1 misalnya. Kita harus menunggu harga pada jam itu juga untuk tertutup dulu baru kemudian menjumlahkannya dengan beberapa periode H1 dari data pada jam-jam sebelumnya yang telah ditentukan untuk kemudian dibagi dengan nilai yang telah ditentukan pula. Maka dari itu kebanyakan indikator teknikal akan lagging atau repaint karena harus menunggu data selesai diinput untuk kemudian diproses menjadi sinyal. Meskipun begitu, nilai yang dihasilkan oleh indikator buatan trader generasi baru ini bisa dikatakan objektif mengingat penghitungannya menggunakan matematika.

Sejarah Singkat Tentang Fibonacci

Indikator Fibonacci berasal dari nama yang seorang matematikawan Italia: Leonardo Pisano 1170-1250. Putra Guilielmo dan anggota keluarga Bonacci. Fibonacci kadang-kadang digunakan nama Bigollo, yang artinya baik.

Fibonacci adalah seorang jenius di zamannya. Dia adalah seorang ahli matematika brilian yang menulis beberapa buku. Ia paling terkenal saat ini untuk, urutan 1 1, 2, 3, 5, 8, 13, 21, 34, 55, dan seterusnya. Sampai saat itu dunia Barat telah menggunakan sistem angka Romawi, sehingga Fibonacci dapat memperkenalkan kepada Barat pada sistem desimal modern, dimana sistem desimal diimpor dari Babilonia.

Urutan nomor Fibonacci dipelajari sebagai bagian dari nomor dan aplikasi base dalam penghitungan objek matematika seperti permutasi, urutan, serta perhitungan dalam ilmu komputer. Sebelumnya, dia pergi ke Mediterania belajar kepada matematikawan Arab dan kembali ke Pisa sekitar 1200. Pada tahun 1202, dengan usia 32, Fibonacci mempublikasikan penemuannya dalam buku Perhitungan Fibo. Di dalamnya ia menunjukkan pentingnya sistem nomor baru dengan menerapkan akuntansi komersial dengan menambahkan konversi berat dan ukuran. Ia juga menunjukkan bagaimana menerapkannya pada perhitungan bunga, perubahan harga, dan banyak aplikasi lainnya.

Buku itu diterima dengan baik dan memiliki dampak yang mendalam pada pemikiran Eropa. Meskipun demikian, penggunaan angka desimal tidak meluas sampai hampir tiga ratus tahun kemudian. Fibonacci merasa terhormat untuk menjadi tamu dari Kaisar Romawi Suci Frederick II yang merupakan penggemar matematika dan ilmu pengetahuan. Pada tahun 1240, Republik Pisa menghormatinya dengan membayarnya dengan gaji besar dari kota.

Angka Fibonacci yang digunakan dalam analisis, waktu menjalankan algoritma Euclid menentukan pembagi dimulai dari urutan terbesar dari dua bilangan bulat. Ini juga digunakan oleh Yuri Matiyasevich untuk memecahkan masalah Hilbert kesepuluh. Angka-angka juga digunakan dalam rumus tentang segitiga Pascal diagonalnya. Dia mengatakan bahwa setiap bilangan bulat positif dapat ditulis secara unik, dengan cara menjumlahkan dari satu atau lebih angka Fibonacci yang berbeda dan dengan cara itu jumlahnya tidak mencakup dua angka berturut-turut, yang disebut teorema Zeckendorf. Sebuah jumlah angka Fibonacci yang memenuhi ide-ide ini merupakan representasi Zeckendorf.

Angka-angka tersebut juga sering ditemukan di alam. Terkadang fibo ditemukan dalam pola daun, rumput dan bunga, dan cabang di semak-semak dan pohon-pohon. Angka Fibonacci juga dapat ditemukan dalam susunan tines pada kerucut pinus, dalam biji raspberry dan sumber alam lainnya. Gen dan enzim sering menunjukkan pula pola Fibonacci.

Fibonacci, yang dikenal pada zamannya dan diakui sebagai seorang jenius, bisa melihat pola yang lain. Terjemahan Fibonacci tentang angka Arab, menggantikan sistem Romawi yang terbatas dan ukurannya yang besar. Seluruh trader yang serius dengan strategi fibo harus berutang budi pada pria dari Pisa ini.